Harga Minyak Dunia Melonjak, WTI Naik US$4,44 per Barel

Harga Minyak Dunia Melonjak, WTI Naik US$4,44 per Barel

TRENENERGI.COM — Harga minyak mentah dunia melonjak pada perdagangan Selasa (15/9/2026), dengan West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat terbang US$4,44 atau 4,38% ke level US$105,83 per barel. Kenaikan dipicu gangguan ekspor Arab Saudi dan serangan terhadap infrastruktur energi di sejumlah negara produsen. Brent juga ikut melesat, menutup perdagangan di US$108,75 per barel atau naik US$3,07 (2,9%).

Paragraf pembuka: Perkuat lead dengan 2-3 kalimat konteks — apa yang mendorong kebijakan/kejadian ini, siapa yang terlibat.

Pemuatan Minyak di Yanbu Dihentikan

Pendorong utama lonjakan harga datang dari Arab Saudi. Sumber industri pelayaran menyebut pemuatan minyak mentah di terminal Yanbu dihentikan sementara. Riyadh juga dilaporkan membatalkan sejumlah kargo minyak mentah untuk pelanggan Eropa yang sedianya dikirim pada akhir September.

Yanbu bukan terminal biasa. Setelah konflik AS-Israel dengan Iran mengganggu pelayaran di Selat Hormuz, Arab Saudi semakin bergantung pada East-West Pipeline — pipa sepanjang sekitar 1.200 kilometer yang mengalirkan minyak dari wilayah timur negara itu menuju Yanbu di pesisir Laut Merah.

Tekanan bertambah setelah serangan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran menyasar infrastruktur minyak Saudi pada Jumat. Pasar pun bertanya-tanya: berapa lama ekspor Arab Saudi bisa kembali normal?

Libya Ikut Menambah Tekanan Pasokan

Gangguan tidak hanya dari Timur Tengah. National Oil Corporation (NOC) Libya menyatakan operasi di tiga ladang minyak dihentikan setelah anggota Petroleum Facilities Guard menutup katup pada pipa ekspor Hamada-Zawiya.

NOC memperingatkan dapat memberlakukan force majeure jika penutupan berlanjut. Kondisi itu berpotensi mengganggu produksi dari ladang minyak lainnya.

Serangan Rusia dan Ukraina terhadap fasilitas energi masing-masing turut memperketat pasokan bahan bakar global. Rangkaian gangguan ini membuat pasar minyak menghadapi risiko kekurangan pasokan yang semakin besar.

Perbedaan Perkiraan soal Perbaikan Pipa

Ketidakpastian durasi gangguan menjadi faktor yang membuat pedagang berhati-hati. Goldman Sachs memperkirakan waktu perbaikan East-West Pipeline berkisar dari beberapa hari hingga delapan minggu.

Menteri Energi AS Chris Wright punya pandangan berbeda. Menurutnya, aliran minyak melalui pipa vital tersebut seharusnya dapat kembali dalam beberapa hari.

"Para pedagang telah membeli kontrak berjangka WTI dengan asumsi bahwa gangguan pada ekspor Arab Saudi akan berlangsung lebih lama dari perkiraan," kata Presiden Lipow Oil Associates Andy Lipow.

Lipow menilai kondisi tersebut dapat mendorong kilang-kilang Eropa beralih menggunakan minyak mentah dari Amerika Serikat.

Ekspektasi Investor Berubah

Ekonom senior bidang iklim dan komoditas di Capital Economics, Hamad Hussain, menyoroti dampak serangan Houthi terhadap psikologi pasar.

"Serangan baru oleh kelompok Houthi yang menargetkan Arab Saudi mungkin memengaruhi ekspektasi investor pasar minyak mengenai tingkat keparahan dan durasi konflik," ujarnya.

Kedua kontrak minyak mencatat level penutupan tertinggi sejak 19 Mei. Kenaikan WTI yang lebih besar dibandingkan Brent mencerminkan kekhawatiran spesifik terhadap pasokan Amerika Serikat dan prospek permintaan dari Eropa.

Penutup: Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak dunia ini menjadi alarm karena berpotensi menekan subsidi energi dan biaya impor bahan bakar. Pasar masih menunggu kepastian kapan ekspor Arab Saudi dan Libya kembali normal.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index