TRENENERGI.COM — Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria kembali bertemu raksasa nuklir Rusia, Rosatom, di Wina, Austria, pada Senin (14/9/2026). Pertemuan itu menjadi yang keempat dalam lima bulan terakhir, menandai menguatnya persiapan Indonesia membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pertama. Frekuensi pertemuan yang intens menunjukkan pembahasan teknis dan kerja sama nuklir kian serius.
Arif Satria bertemu perwakilan Rosatom di sela rangkaian agenda internasional di Wina. Pertemuan tersebut melanjutkan rangkaian komunikasi yang sudah berjalan sejak beberapa bulan sebelumnya.
Rosatom merupakan perusahaan nuklir milik negara Rusia yang berpengalaman membangun PLTN di berbagai negara. Kehadirannya dalam pembicaraan dengan BRIN menempatkan Rusia sebagai salah satu kandidat mitra teknologi untuk program nuklir Indonesia.
Empat Pertemuan dalam Lima Bulan
Pertemuan di Wina pada 14 September 2026 menjadi yang keempat dalam kurun lima bulan. Artinya, intensitas komunikasi antara BRIN dan Rosatom tergolong rapat untuk ukuran kerja sama yang masih tahap penjajakan.
Wina sendiri dikenal sebagai kota tuan rumah Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). Lokasi ini kerap menjadi tempat pertemuan diplomatik dan teknis antarnegara di sektor nuklir.
BRIN berperan sebagai lembaga riset negara yang menangani pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk riset nuklir. Keterlibatan BRIN menandakan pembahasan tidak hanya soal komersial, tetapi juga kesiapan riset dan sumber daya manusia.
Mengapa Rusia Masuk Radar Indonesia
Rosatom memiliki rekam jejak panjang sebagai pemasok teknologi reaktor nuklir. Perusahaan ini aktif menawarkan skema kerja sama yang mencakup pembangunan, operasional, hingga pendanaan.
Bagi Indonesia, pilihan mitra teknologi menjadi salah satu penentu utama kelayakan proyek PLTN. Faktor biaya, transfer teknologi, dan kesiapan regulasi domestik menjadi pertimbangan yang tidak bisa dipisahkan.
Pertemuan berulang dalam waktu singkat memberi sinyal bahwa kedua pihak sedang memperdalam pembahasan, bukan sekadar silaturahmi formal. Namun belum ada keterangan resmi soal nilai proyek, lokasi, maupun jadwal pembangunan yang disepakati.
Jalan Panjang Menuju PLTN Pertama
Rencana pembangunan PLTN di Indonesia sudah lama menjadi wacana, tetapi selalu tertunda karena berbagai faktor. Isu keselamatan, penerimaan publik, dan pembiayaan menjadi tiga hambatan utama yang berulang muncul.
Pemerintah menargetkan nuklir masuk dalam bauran energi nasional sebagai sumber listrik bebas emisi. Nuklir dipandang bisa melengkapi energi terbarukan yang sifatnya intermiten seperti surya dan angin.
Frekuensi pertemuan BRIN dan Rosatom menjadi indikator bahwa tahap penjajakan teknis terus berjalan. Meski begitu, keputusan akhir soal mitra dan skema pembangunan masih menunggu proses kajian serta persetujuan lintas kementerian.
Bagi publik, yang paling dinanti tentu kejelasan jadwal dan lokasi proyek. Sampai saat ini, keduanya belum diumumkan secara resmi.