JAKARTA - Aktivitas mengonsumsi makanan ringan yang memiliki kandungan protein tinggi sebelum beranjak tidur diklaim mampu meredakan rasa lapar di larut malam.
Meskipun demikian, kebiasaan tersebut rupanya belum terbukti secara langsung sanggup mendongkrak level kualitas tidur ataupun membuat seseorang menjadi lebih cepat terlelap.
Seorang pakar gizi bernama Johannah Katz memaparkan bahwa berbagai hasil riset ilmiah seputar asupan protein sebelum beristirahat justru lebih banyak memperlihatkan khasiat positif terhadap pemulihan jaringan otot.
Aspek konsumsi ini juga lebih berorientasi pada penciptaan rasa kenyang pada keesokan harinya, ketimbang memberikan pengaruh signifikan terhadap mutu tidur itu sendiri.
"Penelitian mengenai protein sebelum tidur lebih kuat untuk pemulihan otot dan rasa kenyang pada pagi hari daripada untuk membantu seseorang lebih cepat tertidur atau mencegah terbangun di malam hari," kata Katz, seperti dikutip dari Eating Well, Sabtu (18/7).
Selaras dengan pandangan tersebut, seorang ahli gizi lainnya bernama Jennifer Scherer turut menyampaikan bahwa hidangan camilan padat protein dapat memberikan kegunaan tersendiri.
Manfaat ini khususnya menyasar bagi kelompok individu yang kerap didera rasa lapar di waktu malam atau mereka yang menghadapi hambatan dalam mencukupi target protein harian.
Berdasarkan penuturannya, menu makanan ringan tersebut sejatinya hanya berfungsi untuk mereduksi potensi gangguan tidur yang dipicu oleh munculnya rasa lapar, bukan secara aktif mengintervensi mutu dari tidur seseorang.
Guna menyiasati hal itu, Scherer memberikan anjuran kepada masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih jenis kudapan malam dengan porsi yang berskala kecil saja.
Beberapa opsi menu sehat yang direkomendasikan antara lain yogurt Yunani atau greek yogurt yang dipadukan dengan buah, keju cottage bersama buah beri, ataupun kacang edamame.
Di sisi lain, jajaran pakar kesehatan juga memberikan peringatan keras agar masyarakat tidak melangsungkan aktivitas makan dalam durasi waktu yang terlampau dekat dengan jadwal tidur.
Sebab, kebiasaan buruk tersebut berisiko memicu timbulnya rasa begah pada perut serta memperparah gangguan refluks asam lambung bagi kelompok orang yang rentan mengalaminya.
Seorang ahli gizi bernama Erin Palinski-Wade memberikan saran ideal bahwa menu camilan malam sebaiknya diatur agar hanya mengandung sekitar 7 gram kadar protein saja.
Takaran tersebut dinilai sudah cukup mumpuni untuk memberikan efek mengenyangkan pada perut, tanpa harus menimbulkan sensasi penuh yang menyiksa sebelum beristirahat.