JAKARTA - Banyak kalangan penderita diabetes memilih untuk menjauhi konsumsi roti lantaran merasa cemas makanan tersebut dapat memicu lonjakan kadar gula darah.
Padahal, stigma negatif yang menganggap bahwa seluruh varian roti wajib dijauhi oleh tubuh tersebut sejatinya tidak sepenuhnya benar.
Jajaran pakar kesehatan menyebutkan bahwa orang dengan kondisi diabetes tetap diperbolehkan mengonsumsi roti dalam kehidupan sehari-hari.
Syaratnya, porsi makanan tersebut harus disesuaikan dengan target kebutuhan karbohidrat harian serta selektif dalam memilih varian jenis roti yang tepat.
Berdasarkan kutipan dari EatingWell, seorang pakar gizi bernama Kitty Broihier menyampaikan bahwa konsumsi hidangan roti masih diizinkan bagi tubuh.
Syarat mutlaknya adalah total kandungan karbohidrat di dalamnya wajib diperhitungkan secara cermat ke dalam pola diet atau makan harian.
Tingkat kebutuhan zat karbohidrat bagi setiap individu dipastikan berbeda-beda, karena sangat bergantung pada kondisi kesehatan fisik, level aktivitas harian, hingga target kontrol gula darah.
Oleh karena itu, para pengidap diabetes sangat dianjurkan untuk berkonsultasi dengan ahli gizi tepercaya guna menetapkan porsi yang paling ideal.
Di samping membatasi volume porsi, ketepatan dalam menentukan jenis komoditas roti juga memegang peranan yang teramat penting bagi kesehatan.
Salah satu langkah proteksi yang sering kali dilewatkan oleh masyarakat sebelum membeli adalah membaca informasi label nilai gizi pada kemasan produk.
Mengutip laporan dari Everyday Health, seorang pakar gizi sekaligus penulis buku Diabetes: 365 Tips for Living Well yang bernama Susan Weiner, memberikan penjelasan penting.
Ia memaparkan ada beberapa komponen gizi utama yang wajib menjadi perhatian penuh konsumen sebelum memutuskan membeli roti.
Poin pertama yang krusial adalah dengan menjatuhkan pilihan pada jenis roti yang memiliki kandungan serat dalam jumlah yang tinggi.
Zat serat di dalam tubuh bertugas memperlambat proses penyerapan unsur karbohidrat, sehingga laju kenaikan kadar gula darah pascamakan menjadi lebih terkontrol.
Broihier memberikan saran untuk memilih jenis roti gandum utuh yang setidaknya mempunyai kandungan minimal 3 gram serat dalam setiap porsi sajiannya.
Kuantitas serat tersebut dinilai sudah sangat mumpuni dalam membantu menekan respons agresif dari gula darah setelah seseorang mengonsumsi roti.
Poin kedua yang tidak kalah penting adalah dengan memeriksa secara teliti total kandungan karbohidrat serta jumlah kalori di dalamnya.
Jumlah total zat karbohidrat dan energi kalori ini wajib diperhatikan secara saksama, terlebih jika Anda berniat melahap lebih dari satu lembar roti.
Weiner memberikan anjuran ideal untuk memilih jenis roti dengan batasan maksimal di kisaran 15 gram karbohidrat serta 100 kalori untuk per lembarnya.
Apabila angka kandungan pada label kemasan terdeteksi lebih tinggi dari standar tersebut, ada baiknya Anda membatasi konsumsi menjadi satu lembar saja.
Sebagai opsi alternatif yang sehat, lembaran roti yang kedua dapat dialihkan dengan memanfaatkan daun selada segar ataupun jenis sayuran hijau lainnya.
Langkah substitusi ini dinilai sangat efektif agar pasokan karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh tetap berada dalam koridor yang terkendali.
Langkah berikutnya agar tingkat kestabilan gula darah dapat terjaga dengan lebih optimal, hidangan roti sebaiknya tidak dikonsumsi secara tunggal tanpa pendamping.
Broihier memberikan rekomendasi untuk memadukan roti dengan sumber zat protein ataupun lemak sehat karena kombinasi zat ini terbukti klinis mereduksi lonjakan gula darah.
Beberapa opsi bahan isian bergizi yang sangat serasi untuk dipadukan bersama lembaran roti antara lain buah alpukat, daging ikan salmon, serta dada ayam.
Selain itu, Anda juga dapat memakai hummus, keju, selai kacang murni tanpa tambahan pemanis buatan, ataupun olahan telur ayam.
Lewat penerapan strategi makan tersebut, kalangan penderita diabetes sejatinya tidak perlu lagi memangkas atau menghindari menu roti secara total.
Kuncinya terletak pada kedisiplinan memilih varian roti yang tepat, meneliti kandungan gizi, membatasi porsi harian, serta mengombinasikannya dengan protein atau lemak sehat.