JAKARTA - Apakah Anda pernah dibesarkan oleh orang tua yang amarahnya dapat meledak secara tak terduga atau merasa bertanggung jawab menjaga emosi mereka?
Jika ya, kemungkinan besar Anda dibesarkan oleh seorang eggshell parent yang menerapkan pola asuh bernama eggshell parenting.
Pola pengasuhan ini tentu penting untuk dikenali secara mendalam agar rantai negatif tersebut dapat segera diputus mulai sekarang.
Cara seseorang membesarkan anak umumnya sangat dipengaruhi oleh pola pengasuhan yang mereka terima dari orang tua di masa lalu.
Apabila pola asuh tersebut bernilai positif, tentu hal itu layak untuk diteruskan kepada generasi penerus berikutnya.
Namun, jika yang ditemukan justru praktik eggshell parenting, maka pola asuh yang rapuh ini sebaiknya tidak dilanjutkan kepada anak.
Istilah eggshell parenting sendiri lahir dari kondisi psikologis orang tua yang rapuh, memiliki suasana hati tidak stabil, serta perilaku yang tidak konsisten.
"Ketika orang tua memiliki suasana hati tidak stabil, ledakan emosi, dan perilaku yang tidak konsisten yang menyebabkan anak-anak mereka harus berhati-hati di sekitar mereka, mereka menunjukkan eggshell parenting," jelas psikoterapis Anna Hindell mengutip dari Parents.
Ledakan emosi dari orang tua tersebut sering kali dipicu oleh hal-hal sepele yang sulit dipahami oleh anak.
Kondisi ini membuat anak merasa tidak aman secara konstan akibat perubahan suasana hati yang begitu cepat dan penuh ketegangan.
Dalam kasus paling ekstrem, pola asuh ini bahkan dapat memicu masalah psikologis berat di mana anak justru merasa wajib menanggung beban emosi orang tua mereka.