JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau para pengelola Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di seluruh wilayah Indonesia supaya merancang pemanfaatan air secara terukur guna mengantisipasi melonjaknya beban listrik sewaktu fenomena El Nino berlangsung.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, mengutarakan bahwasanya kenaikan konsumsi energi nasional kerap terjadi berbarengan dengan menyusutnya cadangan air waduk di kala cuaca terik hingga kekeringan melanda.
"Informasi mengenai curah hujan sangat penting untuk menentukan rencana penggunaan air di PLTA-PLTA. Biasanya cuaca panas itu memicu lonjakan konsumsi energi, sehingga informasi iklim ini sangat digunakan untuk menentukan langkah-langkah antisipasinya," kata Ardhasena.
Ardhasena memaparkan bahwasanya peningkatan suhu udara secara signifikan sepanjang musim kemarau bakal memicu lonjakan beban puncak listrik lantaran maraknya penggunaan mesin pendingin ruangan oleh publik.
Di saat yang bersamaan, kapasitas produksi energi bersih yang bersumber dari fasilitas PLTA berpotensi terganggu jikalau debit air pada waduk maupun danau menyusut tanpa dibarengi strategi penghematan yang matang.
Lantaran hal tersebut, BMKG mendorong Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), PLN, beserta pengelola bendungan untuk mempergunakan pemutakhiran data iklim sebagai acuan saat mengatur skema pemutaran turbin air.
"Manajemen alokasi air yang presisi dinilai menjadi kunci utama agar suplai listrik dari PLTA tetap stabil hingga melewati periode puncak kemarau," katanya.
Ia menilai bahwasanya lewat eksekusi antisipasi serta efisiensi pemanfaatan air operasional sejak dini, keandalan pasokan energi listrik nasional dipastikan tetap aman meski terhimpit tekanan gelombang panas El Nino.
Direktorat Klimatologi BMKG membeberkan bahwa fenomena El Nino diprediksi bakal terus bertahan, yang mana merujuk pada karakteristiknya, indeks El Nino diperkirakan menyentuh titik puncaknya pada Desember 2026 sampai Januari 2027.
Pada prosesnya, proyeksi teranyar BMKG turut mengindikasikan adanya peluang signifikan El Nino pada tahun ini berkembang melampaui kategori kuat, sehingga dampak potensialnya terhadap dinamika iklim Indonesia mesti terus diantisipasi.
Kondisi tersebut selaras dengan hasil pemantauan iklim pada dasarian pamungkas Juli 2026 yang memperlihatkan penetrasi musim kemarau kian intensif.
Pada rentang waktu ini, BMKG mencatat sebanyak 509 Zona Musim (ZOM) atau berkisar 54,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, sedangkan kawasan yang masih diguyur musim hujan menyisakan 77 Zona Musim.
Berdasarkan analisis spasial, musim kemarau kini mendominasi kawasan selatan garis khatulistiwa, mencakup Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan Timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian Papua dengan klasifikasi Merah (lebih dari 60 Hari Tanpa Hujan/HTH), Merah Muda (31-60 HTH), serta Cokelat Tua (21-30 HTH).
"Kondisi tersebut sesuai pola klimatologis Indonesia, dimana musim kemarau umumnya bermula dari Nusa Tenggara Timur, kemudian bergerak secara bertahap ke arah barat," kata Ardhasena.