TRENENERGI.COM — Penerbangan panjang yang menembus beberapa zona waktu sering meninggalkan jet lag bagi traveler. Ahli diet Mayo Clinic Tara Schmidt menyarankan penyesuaian jadwal makan digeser bertahap 15 menit hingga satu jam sebelum keberangkatan. Setibanya di destinasi, ikuti ritme makan setempat agar tubuh cepat menyesuaikan diri.
Perjalanan jauh lintas benua kerap membuat tubuh kehilangan ritme. Salah satu cara paling praktis menekan dampaknya adalah mengatur jadwal makan sejak sebelum berangkat.
Ahli diet dari Mayo Clinic di Rochester, Amerika Serikat, Tara Schmidt, menyarankan waktu makan digeser perlahan agar mendekati jadwal di destinasi. Penyesuaian bisa dimulai dari 15 menit, lalu 30 menit, hingga satu jam.
Geser Waktu Makan Sebelum Terbang
Strategi ini bekerja karena jam biologis tubuh mengikuti sinyal eksternal, termasuk waktu makan. Menggeser jam makan sedikit demi sedikit membantu tubuh beradaptasi sebelum pesawat mendarat.
Setibanya di tempat tujuan, langsung ikuti jadwal makan setempat. Jika sudah pagi, makan sarapan, lalu lanjut makan siang dan malam sesuai waktu lokal.
Studi pada 2023 yang melibatkan peneliti Northwestern University menemukan sarapan cukup dan disesuaikan dengan zona waktu baru dapat mempercepat pemulihan dari jet lag.
Pilih Porsi Kecil Selama Perjalanan
Porsi makan juga perlu diperhatikan, terutama menjelang dan selama penerbangan. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyarankan wisatawan memilih porsi lebih kecil untuk mengurangi risiko gangguan pencernaan.
Schmidt menilai langkah itu penting pada hari-hari awal perjalanan. "Makanan dalam porsi lebih kecil biasanya lebih mudah ditoleransi tubuh, terutama jika Anda memiliki perut sensitif atau mengalami ketidaknyamanan pada saluran pencernaan," ujar Schmidt.
Setelah tubuh mulai menyesuaikan diri, porsi makan bisa kembali normal. Tetap waspadai makanan berminyak atau tinggi lemak yang memperlambat pencernaan.
Batasi Alkohol dan Kafein
Minuman pun berpengaruh besar. Schmidt mengingatkan wisatawan menghindari alkohol karena dapat mengganggu tidur.
Kopi atau teh masih boleh diminum jika sudah menjadi kebiasaan, tetapi jangan terlalu sore agar tidak merusak waktu tidur. Kafein dan alkohol juga meningkatkan risiko dehidrasi.
"Dehidrasi tentu dapat memperburuk kelelahan dan gejala jet lag yang dirasakan," jelas Schmidt.
Karena itu, minum air sebelum, selama, dan setelah penerbangan untuk mengimbangi udara kabin yang kering.
Ikuti Jadwal Tidur dan Makan Lokal
Selain pola makan dan minum, tubuh perlu segera menyesuaikan diri dengan jadwal di destinasi. Ahli nutrisi dari University of Minnesota, Joanne Slavin, menyarankan wisatawan langsung mengikuti waktu makan setempat.
"Segera ikuti jadwal baru Anda," ungkap Slavin.
Slavin menjelaskan gangguan pencernaan seperti kembung, sembelit, atau diare cukup umum dialami orang yang terkena jet lag. Saat perjalanan berakhir, kembali ke jadwal tidur dan makan seperti biasa secara bertahap.
"Semakin cepat Anda kembali melakukannya, termasuk semua kebiasaan Anda, semakin baik kondisi Anda," ujar Slavin.
Menyesuaikan waktu makan, menjaga asupan cairan, membatasi alkohol dan kafein, serta mengikuti jadwal tidur di tempat tujuan bisa menekan dampak jet lag selama bepergian.