TRENENERGI.COM — Analis Kpler Matt Smith memperkirakan harga minyak dunia terus merangkak naik seiring kekurangan pasokan diesel yang semakin dalam. Sejak awal Agustus, harga minyak sudah naik sekitar US$30 per barel akibat hilangnya pasokan dari Timur Tengah selama enam setengah bulan terakhir.
Kekurangan pasokan minyak mentah dari Timur Tengah kini merembet ke harga bensin dan diesel di pasar global. Kpler mencatat sekitar 8,5 juta barel per hari produksi minyak hilang selama konflik berlangsung.
Smith mengatakan kepada CNBC bahwa harga minyak telah naik sekitar US$30 per barel sejak awal Agustus. Padahal, harga bensin biasanya turun pada periode ini karena permintaan musim panas mulai mereda. Kali ini tidak.
Kilang Beroperasi di Bawah Kapasitas
Selain produksi minyak yang hilang, kilang-kilang juga memangkas operasi secara tajam. Akibatnya, jumlah bensin dan diesel yang bisa diproduksi dari minyak mentah yang tersisa ikut berkurang.
"Di situlah titik sakitnya," ujar Smith.
Pada Kamis, harga Brent turun sekitar 3% ke US$102,72 per barel dan WTI melemah ke US$100,47. Penurunan terjadi setelah laporan bahwa Arab Saudi menemukan cara alternatif mengalirkan minyak mentah saat pipa East-West masih rusak.
Pipa Rusak Ancam 120 Juta Barel
Smith memperkirakan potensi kerugian dari gangguan pipa East-West selama sebulan mencapai 100 juta hingga 120 juta barel. Minyak itu tidak bisa diekspor melalui Yanbu.
Arab Saudi meningkatkan pengapalan di dalam Teluk Persia dan mengalihkan sebagian barel melalui Selat Hormuz. Namun lalu lintas kapal di jalur itu masih sangat terbatas. Hanya tiga kapal komersial yang melintasi Hormuz pada Rabu, turun dari 12 kapal pada Selasa dan rata-rata 17 kapal selama 10 hari terakhir.
Diesel Paling Rentan
Diesel menghadapi situasi lebih pelik karena jalur ekspornya lebih sedikit. Timur Tengah biasanya mengekspor sekitar 3 juta barel per hari produk olahan minyak.
Rusia, eksportir diesel terbesar kedua dunia setelah Amerika Serikat, bersamaan itu kehilangan kapasitas kilang akibat serangan drone Ukraina. Moskow juga membatasi ekspor bahan bakar.
Tiongkok sebenarnya punya kapasitas kilang cadangan. Namun Smith menilai kilang Tiongkok menarik diri saat minyak mentah menembus US$100 dan lebih fokus memenuhi pasar domestik. Ekspor produk olahan hanya naik tipis.
Harga Solar AS Tembus US$6 per Galon
Harga diesel di Amerika Serikat sudah menembus US$6 per galon. Biaya itu membebani sektor angkutan truk, pertanian, konstruksi, dan manufaktur.
Smith memperkirakan harga minyak mentah terus merangkak naik selama tidak ada de-eskalasi konflik. Menurut dia, persoalan diesel "tidak mudah diselesaikan".
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dunia dan kelangkaan diesel menjadi tekanan tersendiri. Sebagai importir neto minyak, biaya impas bahan bakar dan beban subsidi energi bakal ikut terdorong naik jika tren ini berlanjut.