ExxonMobil: Batu Bara Masih 15% Bauran Energi Dunia pada 2050

ExxonMobil: Batu Bara Masih 15% Bauran Energi Dunia pada 2050

TRENENERGI.COM — ExxonMobil Holdings Corp memproyeksi batu bara masih menyumbang 15% dari bauran energi dunia pada 2050, turun dari 25% pada 2025. Proyeksi ini naik satu poin persentase dari perkiraan perusahaan sebelumnya, mencerminkan laju penurunan batu bara yang lebih lambat dari dugaan.

Angka tersebut turun dari 25% pada 2025. Namun, proyeksi terbaru ini naik satu poin persentase dibandingkan perkiraan ExxonMobil sebelumnya.

Mengapa Batu Bara Bertahan Lebih Lama

China dan sejumlah negara Asia lain masih mengandalkan batu bara secara signifikan. ExxonMobil menilai batu bara tetap dianggap krusial bagi ketahanan energi.

Proyeksi itu disampaikan dalam laporan tahunan Energy Outlook yang dirilis pada Kamis (17/9/2026) waktu setempat. Laporan ini menjadi acuan ExxonMobil dalam memetakan permintaan energi jangka panjang.

"Kami melihat tanda-tanda jelas bahwa batu bara akan bertahan lebih lama dari perspektif ketahanan energi dan aspek lainnya, khususnya di beberapa wilayah Asia-Pasifik, China, dan negara-negara lain," ujar Direktur Ekonomi dan Energi ExxonMobil, Prasanna Joshi.

Tekanan Permintaan Global Masih Tinggi

Proyeksi ExxonMobil sejalan dengan sinyal dari Badan Energi Internasional (IEA). Pekan lalu, IEA memperkirakan permintaan batu bara global melonjak ke rekor tertinggi sebesar 8,94 miliar metrik ton tahun ini.

Artinya, konsumsi batu bara dunia belum menunjukkan tanda-tanda penurunan tajam. Negara-negara Asia-Pasifik disebut menjadi penopang utama permintaan tersebut.

Dampak ke Industri dan Konsumen

Bagi Indonesia, proyeksi ini menjaga peluang ekspor batu bara tetap terbuka. China dan negara Asia lain merupakan pasar utama batu bara nasional, sehingga permintaan yang bertahan lama berdampak langsung pada penerimaan negara dan daerah penghasil tambang.

Di sisi lain, industri dalam negeri yang masih bergantung pada batu bara, seperti pembangkit listrik dan smelter, menghadapi biaya bahan bakar yang tidak turun secepat perkiraan sebelumnya. Konsumen listrik pun berpotensi tetap menanggung struktur biaya yang sama.

Pemerintah perlu menimbang proyeksi ini dalam menyusun bauran energi. Target transisi energi tetap berjalan, tetapi laju pengurangan batu bara tampaknya berjalan lebih lambat dari asumsi awal.

Proyeksi ExxonMobil menegaskan bahwa transisi energi global tidak berjalan seragam. Selama ketahanan energi masih menjadi prioritas utama, batu bara akan tetap menjadi bagian dari perhitungan banyak negara.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index