IEA: Pasokan Minyak Dunia Turun 5,7 Juta Barel per Hari, Harga Energi Terancam

IEA: Pasokan Minyak Dunia Turun 5,7 Juta Barel per Hari, Harga Energi Terancam

TRENENERGI.COM — Permintaan minyak dunia melambat ke 0,7 persen pada 2025, sementara gangguan pasokan di Timur Tengah memangkas 5,7 juta barel per hari sepanjang 2026. Tekanan ini memunculkan pertanyaan lama: apa yang terjadi jika minyak bumi benar-benar habis? Dampaknya bukan cuma harga bensin di pompa, tapi juga plastik, pupuk, hingga tiket pesawat.

Minyak bumi bukan sekadar bahan bakar kendaraan. Selama puluhan tahun, komoditas ini jadi tulang punggung transportasi, industri, penerbangan, sampai bahan baku plastik dan pupuk. Ketika pasokannya terganggu, efeknya merembet ke hampir semua sektor ekonomi.

International Energy Agency (IEA) mencatat gangguan produksi dan distribusi di kawasan Timur Tengah sepanjang 2026 menekan pasar minyak global. Lembaga itu memperkirakan pasokan minyak dunia turun sekitar 5,7 juta barel per hari akibat gangguan tersebut.

Harga Energi Melonjak Lebih Dulu

Dampak paling cepat terasa adalah harga. Saat jumlah minyak yang tersedia tak lagi mampu memenuhi permintaan, harga minyak mentah dan produk olahannya berpotensi naik tajam.

Kondisi serupa sudah pernah terlihat ketika pasokan dunia terganggu, meski cadangan minyak belum benar-benar habis. Tekanan harga bahan bakar jadi sinyal awal yang paling mudah dibaca konsumen.

Jika minyak benar-benar tidak tersedia dalam jangka panjang, tekanan terhadap harga energi dipastikan jauh lebih besar dari yang terjadi sekarang.

Transportasi Harus Cari Pengganti

Bensin dan solar masih jadi bahan bakar utama berbagai kendaraan. Tanpa minyak, kendaraan bermesin pembakaran internal harus beralih ke teknologi lain.

Kendaraan listrik menjadi salah satu opsi untuk transportasi darat. Hidrogen dan biofuel juga bisa dipakai di sektor tertentu, meski masing-masing punya tantangan teknis sendiri.

Peralihan itu tidak bisa dilakukan dalam semalam. Dunia butuh jaringan listrik, stasiun pengisian, kendaraan baru, dan infrastruktur pendukung dalam jumlah besar.

Penerbangan Paling Sulit Lepas dari Minyak

Sektor penerbangan termasuk yang paling sulit meninggalkan bahan bakar berbasis minyak. Pesawat komersial saat ini masih sangat bergantung pada avtur.

IEA mencatat penerbangan jadi salah satu penyumbang permintaan minyak dunia yang sulit digantikan dalam waktu singkat. Karena itu, pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan dan teknologi alternatif makin penting.

Plastik dan Pupuk Ikut Terdampak

Banyak orang mengira minyak bumi hanya berkaitan dengan bahan bakar kendaraan. Padahal, minyak juga jadi bahan baku industri petrokimia.

Produk petrokimia dipakai untuk membuat plastik, kemasan, tekstil sintetis, ban, deterjen, hingga komponen elektronik. IEA menyebut bahan baku petrokimia menyumbang sekitar 12 persen permintaan minyak global.

Jika minyak tidak tersedia, industri harus mencari bahan baku alternatif. Sebagian produk bisa dibuat dengan sumber lain, tapi butuh perubahan teknologi dan rantai produksi yang tidak murah.

Rantai Pasok dan Harga Barang Naik

Minyak juga berperan besar dalam rantai pasok global. Truk, kapal, dan berbagai mesin industri selama ini mengonsumsi bahan bakar minyak dalam jumlah besar.

Tanpa pasokan minyak, perusahaan harus mengganti kendaraan, mesin, dan sistem logistik dengan teknologi berbasis sumber energi lain. Dampaknya merembet ke harga barang.

Ketika biaya produksi dan distribusi meningkat, harga produk yang sampai ke konsumen juga berpotensi ikut naik.

Transisi Energi Jadi Kunci

Habisnya minyak bukan berarti manusia kehabisan energi. Matahari, angin, air, panas bumi, dan nuklir tetap bisa dimanfaatkan.

Tantangannya adalah menggantikan fungsi minyak secara menyeluruh. Tidak semua kebutuhan energi bisa dipenuhi teknologi yang sama.

IEA menilai transformasi sistem energi bisa dilakukan tanpa ketergantungan pada industri minyak dan gas. Namun prosesnya jauh lebih sulit dan mahal jika tidak disiapkan sejak awal.

Data IEA menunjukkan pertumbuhan permintaan minyak dunia sudah melambat. Pada 2025, permintaan minyak naik sekitar 0,65 juta barel per hari atau 0,7 persen, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan tahun-tahun sebelumnya.

Perubahan besar kemungkinan terjadi sebelum seluruh minyak bumi di dalam tanah benar-benar habis. Pengembangan energi alternatif, teknologi penyimpanan, kendaraan listrik, dan bahan bakar alternatif jadi bagian penting dari proses transisi energi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index