JAKARTA - Perusahaan milik taipan Prajogo Pangestu PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) mendulang lompatan pendapatan bersih hingga 83,6 persen secara tahunan menyentuh angka US$5,35 miliar sepanjang semester I 2026.
Pertumbuhan moncer ini terdorong oleh perluasan skala operasional usai akuisisi Aster Chemicals and Energy pada April 2025 serta kepemilikan jaringan SPBU Esso sejak Januari 2026.
Berdasarkan rilis resmi perseroan, pilar energi menjadi penopang utama dengan torehan omzet US$3,33 miliar atau melonjak 184,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Pada saat bersamaan, lini kimia menguat 16 persen menjadi US$1,96 miliar, sementara pilar infrastruktur terangkat 13,9 persen ke posisi US$64,6 juta.
Selaras dengan tren pendapatan, Chandra Asri mengantongi EBITDA operasional US$802,6 juta dan raihan laba bersih senilai US$371,2 juta pada paruh awal 2026.
Jajaran manajemen menegaskan performa bisnis tersebut memperlihatkan kontribusi riil dari integrasi ekosistem energi, kimia, serta infrastruktur yang kokoh.
Regenerasi fundamental perseroan pun didukung oleh perbaikan marjin di tengah ketidakpastian pasar akibat eskalasi dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Pihak manajemen menambahkan bahwa perbandingan dengan capaian semester I 2025 memuat catatan basis yang sangat tinggi imbas dari pengakuan keuntungan pembelian murah (bargain purchase gain) akuisisi Aster.
"Di luar keuntungan yang bersifat satu kali tersebut, perseroan menilai kinerja operasional dan keuangannya tetap menunjukkan pertumbuhan yang solid," jelas manajemen TPIA.
Di luar ekspansi bisnis, TPIA turut memperkuat struktur permodalan lewat penuntasan penawaran Obligasi Berkelanjutan V bernilai Rp6 triliun yang mencatatkan kelebihan pemesanan.
Perseroan juga mengerek porsi saham publik (free float) ke level 25,7 persen guna memperlebar jangkauan pemodal serta fleksibilitas pembiayaan.
Pada pilar energi, proses integrasi jaringan SPBU Esso dan fasilitas pendingin terus berjalan, sementara pembenahan Condensate Splitter Unit (CSU) dan Single Buoy Mooring (SBM) di Pulau Bukom sesuai target untuk beroperasi pada kuartal IV 2026.
Manajemen memperkirakan kedua unit tersebut mampu menyumbang potensi EBITDA sekitar US$20 juta tiap bulan mulai kuartal IV 2026 untuk memperkuat margin grup.
Pada pilar kimia, pengerjaan pabrik Chlor Alkali–Ethylene Dichloride (CA-EDC) sudah memasuki progres 72 persen dan diproyeksikan beroperasi komersial pada 2027.
TPIA juga mengeksekusi Final Investment Decision (FID) untuk proyek pengembangan ekspor C2 bernilai US$80 juta demi memperkuat integrasi aset Aster di Singapura dengan bisnis hilir di tanah air.
Sementara pada pilar infrastruktur, anak usaha PT Chandra Daya Investasi (CDI) melebarkan unit logistik pelabuhan, didukung tangki penyimpanan bitumen yang telah rampung 75 persen serta beroperasinya Aster Ports & Terminals per 1 Juli 2026.
Meskipun omzet meroket, laba bersih TPIA secara tahunan melorot 77,2 persen dari US$1,63 miliar ke angka US$371,2 juta akibat hilangnya dampak pembukuan bargain purchase gain tahun lalu.
Secara neraca, akumulasi aset TPIA tumbuh 11,7 persen menjadi US$13,77 miliar, ekuitas naik 6,6 persen menjadi US$4,96 miliar, dan posisi kas terjaga kuat di kisaran US$3,87 miliar per Juni 2026.