JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa mengalami penurunan sebesar 64 poin atau 0,36 persen menuju level Rp17.862 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.798 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menjelaskan bahwa depresiasi mata uang garuda ini terimbas oleh lonjakan harga minyak global seiring meningkatnya kekhawatiran atas eskalasi konflik antara AS dan Iran.
“Rupiah pada perdagangan hari ini melemah, dipengaruhi oleh global kenaikan harga minyak akibat kekhawatiran berlanjutnya konflik AS dan Iran,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Berdasarkan laporan Kantor Berita Anadolu, komoditas minyak mentah melonjak lebih dari 2 persen setelah Presiden AS Donald Trump menutup peluang perpanjangan kesepakatan kerangka kerja dengan Iran, yang memicu kecemasan gejolak di kawasan Selat Hormuz.
Minyak mentah jenis Brent menguat 2,4 persen menuju angka 90,60 dolar AS per barel pada pukul 18.50 GMT, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) terkerek 2,2 persen ke tingkat 84,20 dolar AS per barel.
Trump mengutarakan bahwa ia enggan memperpanjang kesepakatan yang sebelumnya ditandatangani bersama Iran pada Juni via mediasi Pakistan, sebab tenggat waktu negosiasi 60 hari hampir habis tanpa solusi konkret.
Sikap tegas tersebut memunculkan kecemasan bahwa kebuntuan diplomatik dapat memicu eskalasi militer dan mengganggu kelancaran lalu lintas pasokan energi melalui Selat Hormuz sebagai jalur vital perdagangan minyak global.
Menukil laporan Sputnik, Trump sempat melontarkan wacana menjadikan Selat Hormuz sebagai bagian dari wilayah AS dan mengklaim bahwa pihak Amerika Serikat memegang kendali penuh atas kawasan perairan tersebut.
Namun, Komandan Angkatan Darat Iran Jenderal Amir Hatami menegaskan bahwa AS tidak memiliki hak melintas di Selat Hormuz, Teluk Persia, maupun Teluk Oman, serta menggarisbawahi kawasan itu sebagai keunggulan geopolitik Iran.
“Kenaikan harga minyak di atas asumsi APBN (70 dolar AS per barel) akan memicu defisit fiskal, sementara kondisi fundamental ekonomi belum solid,” ungkap Rully.
Dari ranah domestik, para investor dan pelaku pasar dilaporkan tengah memantau ketat hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) periode 18-19 Agustus 2026 yang diproyeksikan bakal menahan suku bunga acuan.
“Namun, bauran kebijakan selain bunga akan menentukan konsistensi kebijakan stabilitas BI,” kata dia.
Sementera itu, data kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia menunjukkan pergerakan melemah menuju Rp17.856 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya sebesar Rp17.836 per dolar AS.